Panjat Pinang

Panjat Pinang | Jogjakarta

Zahirul Alwan – Copyright © 2013

Sejumlah remaja mengikuti lomba panjat pinang. Perlombaan panjat pinang diadakan warga guna memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-68

Iklan

Dampak Letusan Gunung Kelud

Letusan Gunung Kelud | Yogyakarta

Zahirul Alwan – Copyright©2014

Gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada Kamis (13/2) malam, dengan mengeluarkan material vulkanik dan pasir yang terbawa hingga ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Yadnya Kasada

Yadnya Kasada | Gunung Bromo, Probolinggo

Zahirul Alwan – Juli 2013

Upacara Yadnya Kasada atau Kasada ini merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh warga suku Tengger yang tinggal wilayah Jawa Timur.

Upacara ini bertempat di Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki Gunung Bromo Utara dan dilanjutkan ke Puncak gunung Bromo. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (bulan kesepuluh).

Makna kata Kasodo sendiri dari kata “kasada”, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger berharap panen yang berlimpah, meminta tolak bala, atau kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya menuruni tebing kawah untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai lambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Upacara Kasada yang kita kenal sekarang ini merupakan cerita rakyat yang berkembang dari sebuah cerita dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang wanita cantik yang bernama Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari Raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat bosan karena tidak kunjung diberikan anak. Maka pergilah mereka ke Gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Doa mereka dapat terkabul dengan syarat anak terakhir yang lahir harus dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo. Mereka setuju. Rara Anteng pun hamil dan melahirkan 25 orang anak. Dengan berat hati mereka merelakan anak yang ke-25 untuk mengobankan nyawa demi keselamatan nyawa penduduk akibat Gunung Bromo “marah” karena janji Jaka Seger dan Rara Anteng belum juga ditepati.

Konon setelah pengorbanan anak yang ke-25 itu, terdengar suara anak tersebut dari kawah Bromo. Suara anak itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Pindapata

Pindapata | Magelang

Zahirul Alwan – Mei 2012

Menjelang Tri Suci Waisak 2556 BE/2012 ”Pindapata”

Kelenteng Liong Hok Bio, Jalan Pemuda Kota Magelang, Jawa Tengah, Kamis (3/5). Kamis (3/5). Prosesi pindapatta merupakan penyerahan sedekah dari umat Buddha kepada para biksu dan Samanera (calon Biksu). Prosesi tersebut berlangsung di kawasan pecinan, di Kelenteng Liong Hok Bio, Jalan Pemuda Kota Magelang, Jawa Tengah. Menjelang hari Tri Suci Waisak 2556 BE/2012, sekitar 160 biksu mengikuti prosesi “pindapata” dan diawali dengan pembacaan doa-doa di Kelenteng Liong Hok Bio di Kota Magelang, Jawa Tengah. Usai melakukan doa, berjalan kaki menyusuri Jalan Pemuda sejauh dua kilometer dengan membawa bejana, Umat dan warga yang telah menunggu di depan pertokoan memberikan sedekah ke dalam bejana tersebut.

Reog Ria Muda Kelana

 

Reog Ria Muda Kelana | Bantul, Jogjakarta

Zahirul Alwan – Copyright © 2013

Cuci Patung Dewa

 

Cuci Patung Dewa | Jogjakarta

Zahirul Alwan – Februari 2013

Warga keturunan Tionghoa membersihkan patung dewa di Vihara Buddha Prabhau, Jogjakarta. Senin (4/2). Kegiatan tersebut untuk menyambut perayaan tahun baru imlek 2564.

Jagal Kuda Ashar

Jagal Kuda Ashar | Bantul, Jogjakarta

Zahirul Alwan – Copyright © 2013

Dikawasan Segarayasa, Pleret, Bantul, Yogyakarta dikenal sebagai kawasan penghasil krupuk kulit atau krecek. Diwilayah ini juga dikenal sebagai pusat penyembelihan hewan salahsatunya penyembelihan kuda (jagal kuda). Penyembelihan kuda di Jogja-Jateng hanya terdapat di Segarayasa ini. Penyembelih kuda di Segarayasa ini ada di dua tempat. Salah satunya adalah milik Heru Nugroho.

Pemotongan kuda yang dilakukan tempat Heru Nugroho dilakukan setelah waktu shalat ashar (sekitar pukul 15.30WIB). Alasannya adalah waktu tersebut merupakan waktu yang relatif tenang, dan udara tidak terlalu terasa panas. Hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam daging dan jerohan umumnya telah habis terjual oleh pedagang-pedagang yang sudah menunggung sejak proses penyembelihan dimulai.

Kuda yang ada di kandang bukanlah kuda peliharaan. Kuda itu dibelinya dari para pemilik kuda dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur (Magelang, Kudus, Boyolali, Solo, Kartasura , Banyuwangi, Malang, Tulungagung)

Daging kuda ini diolah menjadi sate, tongseng, dan empal. Untuk masyarakat Jogja sate atau tongseng kuda sudah menjadi menu makanan yang umum. Bahkan banyak orang sengaja memburu daging kuda karena mereka percaya daging kuda dapat menyembuhkan sakit asma dan menambah vitalitas pria. Selain itu daging kuda juga rendah kadar lemak dan kolesterolnya.